Kamis, 26 Mei 2011

Mourinho Menghina Pemain Muslim yang Sedang Berpuasa Ramadhan

 

Pelatih klub sepak bola Inter Milan, Jose Mourinho, mendapat kritikan keras dari seorang pemimpin umat Islam Italia atas komentarnya tentang bulan Ramadhan. Komentar pedas tersebut dilontarkan Mourinho pada saat Inter Milan menjamu Bari dalam laga Seri A yang berlangsung Ahad (23) lalu waktu setempat.

Komentar Mourinho ini bermula saat pelatih asal Portugal ini menarik mundur gelandang Inter Milan, Sulley Ali Muntari, keluar lapangan pada babak pertama saat kedudukan imbang 1:1. Mourinho mengatakan bahwa Muntari yang asli Ghana tersebut, permainannya kurang bagus dan tidak bertenaga karena sedang menjalankan puasa di bulan Ramadhan.

''Muntari sudah beberapa kali mengalami masalah yang berkaitan dengan Ramadhan, mungkin dengan panas itu tidak baik baginya untuk melakukan hal ini,'' katanya kepada wartawan.

"Ramadhan bukan saat yang ideal bagi seorang pemain untuk bertanding sepak bola.''

Mantan manajer Chelsea ini terkenal karena komentarnya yang blak-blakan. Setelah insiden tersebut, ada indikasi Muntari tidak akan dilibatkan pada pertandingan akhir pekan ini melawan rivalnya AC Milan dalam derby della madonnina. Namun, dalam pertandingan semalam, Muntari tetap dilibatkan meski sebagai pemain pengganti saja.

''Saya pikir sebaiknya Mourinho jangan terlalu banyak berbicara,'' kata Mohamed Nour Dachan, presiden dari persatuan organisasi dan komunitas Muslim Italia, kepada Sky Television .

''Seorang pemain yang beragama Kristen, Yahudi, atau Islam pasti memiliki watak psikologis yang sangat tenang dan hal tersebut akan banyak menolongnya,'' imbuhnya.

''Seorang pemain yang berpuasa tidak secara otomatis melemah, karena kami mengetahui dari lembaga kesehatan olahraga bahwa mental dan psikologis yang stabil, akan bisa memberikan olahragawan tambahan semangat sewaktu berada di lapangan.''

Kritikan serupa juga disampaikan oleh pelatih pribadi Muntari, Stefano Tirelli. Menurut Tirelli, tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama untuk mengubah kebiasaannya di bulan Ramadhan.

''Beberapa atlet memang mengalami kelelahan dan kekurangan energi pada saat latihan dan bertanding. Sementara yang lain, berdasarkan karakter, emosi, dan genetika, dapat tetap mempertahankan performa mereka pada saat yang bersamaan. Dan, Muntari adalah salah satu dari (kategori) yang terakhir,'' jelasnya.

Dokter Yacine Zerguni, seorang anggota FIFA dan komite kesehatan olahraga CAF, telah bekerja sama dengan F-marc (pusat lembaga pengkajian dan penelitian medis FIFA) yang telah melakukan penelitian serta pengamatan terhadap efek dari berpuasa Ramadhan bagi seorang olahragawan. Hasilnya, dia menyimpulkan bahwa berpuasa pada bulan Ramadhan tidak masalah bagi atlet sepak bola level atas.

Frederic Kanoute, penyerang klub sepak bola Spanyol Seville, telah mengatakan kepada situs Goal.com awal pekan ini bahwa berpuasa, membuat dirinya menjadi lebih baik lagi bermain bola.

Namun, kondisi berbeda dihadapi para pemain sepak bola di Italia. Sebab, bila di Spanyol pertandingan sepak bola dimulai malam hari, sedangkan di Italia pada sore hari.

Kondisi ini pula yang akhirnya memaksa striker Siena, Abdel Kader Ghezzal, untuk tidak berpuasa.

''Saya selalu puasa di Ramadhan, tapi saya harus mengubah kebiasaan saya untuk alasan kesehatan sejak tahun pertama saya menjadi pemain profesional,'' ujar Ghezzal, yang pada pekan perdana lalu mencetak gol ke jalan Milan, kendati Siena akhirnya kalah dengan skor 2-1 .

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites